Ringankan Beban Pangestu Dalam Menghadapi Kanker Nasofaring

Pangestu Berjuang Melawan Kanker Nasofaring

Bersama ringankan beban Saudara pangestu dalam menghadapi kanker nasofaring

Mari Ulurkan Tangan untuk Saudara Pangestu

Pangestu merupakan seorang remaja berumur 18 tahun yang berasal dari daerah Pacet, Mojokerto. Dia terlahir di tengah tengah keluarga yang kurang mampu ekonominya. Ia adalah anak dari pasangan suami istri Muhammad Ali dan Susniyah.

Pangestu lahir normal seperti remaja lainnya. Pada bulan Desember 2019 yang lalu Pangestu menderita penyakit kanker nasofaring. Penyakit ini merupakan jenis kanker tenggorokan yang terjadi pada lapisan luar nasofaring. Nasofaring merupakan salah satu bagian dari tenggorokan bagian atas yang terletak di belakang hidung dan di balik langit-langit rongga mulut sehingga menyebabkan dirinya susah untuk menelan makanan dan kesulitan bernafas lewat hidung sehingga terpaksa harus bernafas menggunakan mulut. Sudah setahun belakangan ini Pangestu menjalani kemoterapi di RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Awalnya ia hanya merasakan nyeri pada badannya, lalu pada bulan Maret 2019 muncul benjolan kecil di lehernya, yang akhirnya keluarga membawanya ke RS Sumber Glagah di Mojokerto, Jawa Timur. Dikira hanya benjolan biasa, Pangestu dibawa ke poli bedah. Hingga 3 bulan tidak juga ada perubahan, ia mengalami pendarahan di bagian hidung kurang lebih 6 bulan lamanya dan tidak kunjung berhenti sehingga harus dilarikan ke RS Wahidin Mojokerto dan terpaksa dirawat di rumah sakit selama seminggu. Karena tak kunjung sembuh, keluarga memutuskan melakukan screening untuk mengetahui penyakit apa yang dideritanya.

Setelah hasilnya keluar, pihak RS Wahidin Mojokerto menyarankan keluarga untuk membawanya ke RSUD dr. Soetomo Surabaya. Dengan kondisi yang serba pas-pasan, kedua orang tua Pangestu berangkat ke Surabaya menggunakan angkutan desa. Setelah sampai di Surabaya, pihak rumah sakit langsung melakukan tindakan Biopsi. Singkat cerita akhirnya rumah sakit memutuskan untuk melakukan Kemoterapi selama 7 bulan dan ternyata sel kanker itu masih ada, dan semakin nyeri sehingga keluarga membawanya ke Poli Paliatif dengan harapan Pangestu bisa sembuh.

Kaget ? Jelas. Sedih dan terpukul ? Jangan ditanya lagi. Tentunya kala itu perasaan Pangestu bercampur aduk. Namun saat itu juga ia sadar bahwa dia hanya mempunyai 2 pilihan dalam menjalani hidupnya sebagai penyintas kanker. Pilihan pertama ialah mengurung diri, menutup diri dari dunia luar, tidak mau lagi terbuka dan berbagi cerita, tidak lagi menebarkan energi dan semangat. Atau pilihan kedua, ia tetap menjadi dirinya sendiri, tetap semangat, tetap ceria menjalani kehidupan yang tentunya tidak mudah.p

Akhirnya Pangestu Memilih tetap semangat menjalani kehidupan walaupun dengan kondisi tubuh yang kurang memungkinkan untuk melakukan aktivitas seperti teman teman yang lain. Dia tidak pernah mengeluh, selalu ceria, dan terbuka meskipun terkadang dia harus menahan sakit karena penyakit yang dideritanya itu. Dengan support serta dukungan moriil dari kedua orang tua, kerabat, dan teman-teman dekatnya, ia mampu bertahan hingga sekarang. Selain itu, semangat nya dalam menempuh pendidikan terutama juga patut diberi apresiasi, dengan kondisi lemah, Pangestu tetap berusaha mengabari pihak sekolah untuk memberitahukan bahwa ia tidak bisa mengikuti Ujian Penilaian Tengah Semester yang sedang berlangsung di sekolahnya. Pangestu percaya Miracle does exist buat orang-orang yang mau berdoa dan berusaha.

Sementara, menjadi orangtua yang memiliki anak dengan kanker di tubuhnya itu memang tak mudah. Tak sedikit orangtua yang menyerah, hingga jatuh. Namun, banyak juga orangtua yang berjuang untuk menyembuhkan anaknya.

Bapak Pangestu adalah seorang Buruh Tani yang jika tidak bekerja maka tidak mendapatkan upah, sementara ibu nya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Semenjak Pangestu Sakit dan mengharuskan anaknya berobat ke rumah sakit, bapak Ali (nama panggilan beliau) sudah tidak bisa bekerja lagi.

Kegiatan sehari-hari Pangestu selama ini hanyalah berada di dalam kamar, sesekali ia hanya keluar kamar untuk mencari udara segar di luar dan pergi kontrol ke rumah sakit.

Untuk mencukupi kesehariannya, pak Ali terpaksa mencari pinjaman di desa tempat tinggalnya. ”Beruntung masih ada orang yang percaya sama saya,” ujar Beliau. Pak Ali mengaku sangat terbantu dengan adanya BPJS. “ Mungkin kalau saya tidak ada BPJS, saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berharap ada orang baik yang mau membantu meringankan beban keluarga saya, karena saya sudah tidak bisa bekerja lagi” Ujar beliau.

Ringankan Beban Pangestu Dalam Menghadapi Kanker Nasofaring

Rp50.000 dari Rp100 Juta Tercapai
Rp
Data Donatur

Total Donasi : Rp50.000

Donasi Lainnya

Donasi Pasien
Ruang Pasien

Kisah Pilu Pasien Penyakit Langka Di Pelosok

Sahabat, inilah kisah pilu pasien-pasien berpenyakit langka di daerah pelosok yang nyawanya terancam karena tak bisa berobat akibat terkendala biaya. Setiap menit, mereka menangis menahan sakit yang begitu menyiksa. Orang tua mereka yang jadi petani buruh berjuang mati-matian demi bisa bawa anaknya berobat, namun jarak tempuh ke rumah sakit sangat jauh.

Baca Lebih Lanjut
Donasi Pasien
Ruang Pasien

Pemulung Jujur Mendambakan Hidup Yang Layak

Pak Mulyadi namanya, pria kelahiran Semarang yang kini tinggal di Sukoharjo ini sehari-hari hanya bekerja sebagai pemulung. Setiap hari ia mengayuh sepeda tua miliknya di daerah Mayang, Sukoharjo untuk berkeliling mencari barang bekas. Pada tahun 2020, Pak Mulyadi pernah menemukan sebuah dompet milik pengendara yang jatuh.

Baca Lebih Lanjut
Info Kegiatan / Donasi ?