Andri Irvansah harus sembuh melawan heamangioma untuk mengejar mimpinya
Bantu Andri Irvansah Sembuh untuk Mewujudkan Mimpinya
Hai perkenalkan saya adalah salah seorang relawan di Ruang Pasien dengan inisial nama R, sekarang saya bekerja membantu memenuhi kebutuhan Andri Irfansyah agar dapat sembuh dan saya ingin menggalang dana untuk biaya pengobatan Andri Irfansyah.
Usia Andri Irfansyah saat ini 13 tahun, menderita penyakit haemangioma sejak lahir dan menjalani tindakan pengobatan di RS Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya.
Sejak lahir Andri Irfansyah ditemukan benjolan pada tulang ekornya dan pada kaki kiri kepleh seperti tidak ada dagingnya. Karena tidak memiliki biaya untuk berobat sehingga dibiarkan saja, orang tua Andri Irfansyah memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di RS Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya setelah mendapat bantuan dari seseorang.

Saat ini keluhan terberat yang Andri Irfansyah rasakan adalah kaki kiri tidak bisa diluruskan dan kesulitan saat berjalan, dan harus segera dilakukan tindakan embolisasi agar penyakit ini tidak semakin parah. Jika tidak mendapatkan tindakan tersebut dalam waktu dekat akan berakibat pada kondisi yang semakin buruk.
total biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 130.000.000, untuk rinciannya:
biaya operasiona Rp 30.000.000, biaya penunjang pengobatan 80.000.000, dan biaya pendampingan yayasan 20.000.000.
Untuk berobat Andri Irfansyah mengandalkan biaya dari BPJS dan bantuan dari orang lain.

Untuk itu, sangat besar harapan saya akan bantuan dan doa para #OrangBaik dan #SahabatRuangPasien agar Andri Irfansyah bisa tetap melanjutkan pengobatan hingga selesai.
Tak hanya mendoakan dan berdonasi, saudara-saudara juga bisa membagikan halaman galang dana saya ini agar semakin banyak yang turut menemani perjuangan saya.
Terima kasih banyak, #OrangBaik!
Donasi Lainnya..

Ringankan Beban Pangestu Dalam Menghadapi Kanker Nasofaring
Pangestu merupakan seorang remaja berumur 18 tahun yang berasal dari daerah Pacet, Mojokerto. Dia terlahir di tengah tengah keluarga yang kurang mampu ekonominya. Pangestu lahir normal seperti remaja lainnya. Pada bulan Desember 2019 yang lalu Pangestu menderita penyakit kanker nasofaring. Penyakit ini merupakan jenis kanker tenggorokan yang terjadi pada lapisan luar nasofaring. Bapak Pangestu adalah seorang Buruh Tani yang jika tidak bekerja maka tidak mendapatkan upah, sementara ibu nya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Semenjak Pangestu Sakit dan mengharuskan anaknya berobat ke rumah sakit, bapak Ali sudah tidak bisa bekerja lagi. Kegiatan sehari-hari Pangestu selama ini hanyalah berada di dalam kamar, sesekali ia hanya keluar kamar untuk mencari udara segar di luar dan pergi kontrol ke rumah sakit.

11 Tahun Menunggu Untuk Operasi Lubang Anus
“Hanya 1 dari 5000 anak di dunia yang lahir tanpa lubang anus. Ternyata, aku salah satu di antaranya… ” -Constantino Soares-.
Mungkin sekilas Constan terlihat seperti anak-anak sehat lain seumurannya. Ia mengenakan seragam SD setiap paginya, kemudian pamit berangkat sekolah setiap paginya. Siapa yang menyangka di balik seragamnya itu, terpasang kantong plastik di perutnya untuk menampung kotorannya. Rasa cemas kerap memenuhi hati Constan setiap ia pergi ke sekolah. Ia takut tak bisa bermain bersama teman-temannya, ia juga takut bila teman-temannya tahu kalau terlahir berbeda dari yang lain.

Hentikan Tangis Darah Dari Mata Si Penari Cilik
Darah menetes tak dapat ditahan dari mata Sherly, menodai baju tari yang sedang dia dekap malam itu. “Bu, kena darah lagi…” ucap Sherly pada sang ibunda. “Ndakpapa Nduk, digantung lagi aja ya…nanti Ibu lap yang kena darah” sang ibunda meraih baju Sherly dan menggantungnya. Inilah rutinitas Sherly setiap malam. Mendekap baju tarinya yang temani hari-harinya sebelum kanker mata merenggut kebahagiaannya. Perlahan-lahan pula Sherly mulai tak bisa menari, bahkan bergerak seperti orang normal pun dia sudah tak sanggup. Di tengah rasa sakit yang menusuk dari mata kiri Sherly yang buta sampai ke ubun-ubunnya, Sherly bertanya-tanya… “masihkah aku bisa melanjutkan mimpi menjadi seorang penari?”
