Bantu Amanda Keysha Melawan Katarak Kongenital

Amanda keysha harus berjuang melawan katarak kongenital

Bantu Amanda Keysha Berjuang untuk Sembuh Dari Katarak Kongenital

Namanya Amanda Kesyha Hanum pada usianya yang masih dini Keysha diagnosis nystagmus and another irreguler eye movements atau katarak kongenital. Usianya sekarang 11 bulan dan harus berjuang melawan penyakit tersebut.

Iya mas, saya pengen banget anak saya sembuh”  tutur, Afiah ibunda Kesyha
Namun keterbatasan biaya untuk mengobati Kesyha, akhirnya sampai sekarang masih menunggu uluran tangan dermawan.

Awal cerita pada saat kehamilan Afiah selalu kontrol dan baik-baik saja, saat lahir Berat badan, Tinggi badan dan Lingkar kepala normal.  Usia 4 bulan orang tua menyadari adanya sesuatu yang aneh pada anaknya dengan gejala sering belekan sehingga dibawa ke dokter spesialis mata dan diberikan salep beserta obat tetes mata.

Namun tidak ada hasil sehingga diharuskan dibawa ke Rumah Sakit Umum Situbondo. Dari RSU Dr. Situbondo dirujuk ke Dr. Soetomo saat usia pasien 7 bulan.  Serta pada saat ini masih menunggu penjadwalan untuk operasi.

Sahabat Ruang Pasien mari bantu Kesyha melawan penyakit katarak dengan menyisihkan sedikit rejekinya, Insya Allah sedkit bantuan dari sahabat Ruang Pasien sangat membantu kesembuhan Kesyha.
Donasi yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk biaya pengobatan dan perawatan Kesyha dan bila ada kelebihan akan digunakan untuk biaya kehidupan keluarga Kesyha.

Rp0 dari Rp95 Juta Tercapai
Rp
Data Donatur

Total Donasi : Rp50.000

Donasi Lainnya..

Donasi Pasien
Ruang Pasien

Wajah Seorang Kuli Bangunan Hampir Habis Dilahap Tumor Ganas

Tak pernah terbayangkan oleh Pak Ari (51 thn) beliau harus menghadapi kanker ganas yang terus menggerogoti mulutnya dari 16 tahun lalu. Awalnya, ada benjolan kecil di bibir. Namun, lama kelamaan benjolan itu semakin membesar. “Meski sakit saya tetap menjadi kuli untuk mencari nafkah supaya 8 anak saya bisa sekolah, tetapi semenjak tumor ini membesar dan jadi borok saya sangat sulit dapat pekerjaan. Orang takut melihat wajah saya.”ujar Pak Ari dengan suara parau. Pada 2016, benjolan tersebut pecah sampai mengeluarkan darah dan nanah. Karena tak memiliki uang lebih, beliau hanya bisa menahan sakitnya yang membuat rahangnya seperti tersayat pisau. Setelah pecah, tumor tersebut membesar kembali dan mulai menghancurkan rahang dan setengah wajah Pak Ari. Tak jarang tumor ganas itu mengeluarkan darah dan nanah. Jika penyakitnya kambuh, Pak Ari hanya bisa meringkuk di tempat tidur sambil merintih kesakitan.

Baca Lebih Lanjut
Donasi Pasien
Ruang Pasien

Syaraf Mata Terjepit Bola Mata Syifa Seperti Mau Keluar

Lahir dengan kelainan genetik langka dibagian wajahnya,hingga menyebabkan mata syaraf pada matanya terjepit dan tidak bisa melihat secara jelas. Hai,namaku Syifa Cantra Kirana,biasa di panggil Syifa, lahir di Ngawi, Jawa Timur. Saat ini usia ku 8 tahun. Pada saat masih di dalam kandungan usia 9 bulan mata adhik Syifa masih terlihat normal seperti yang lainya. Hingga suatu ketika Syifa mengalami demam yang sangat tinggi hingga mata perputa-putar bahkan sampai mengakibatkan kejang dan akhirnya mata Syifa juling. Kedua orang tua Syifa sempat membawanya ke Rumah Sakit yang ada di Kota Semarang, saat dokter melakukan tindakan pemeriksaan tidak ada diagnosa apapun dan sempat melakukan Ct-Scan. Dokter hanya menyarankan untuk mengonsumsi Jus wortel setiap hari supaya penglihatan Syifa kembali normal. Selang beberapa bulan orang tua Syifa sempat membawa nya ke Rumah Sakit Solo dan Dokter pun tidak sanggup karena alatnya kurang memadai bahkan hingga di bawa ke pengobatan alternatif pun telah di lakukan. Berbagai pengobatan telah di coba oleh orang tua Syifa, mulai dari Medis hingga Alternatif. Syifa yang sekarang duduk di bangku Sekolah Dasar sudah mengerti ketika dia di ejek oleh teman-temannya, lantas Syifa pun tidak menghiraukan dan tetap semangat untuk menjalani hidup. Orang tua Syifa yang bekerja sebagai pegawai di perusahaan Swasta dan Ibu nya hanya seorang penjahit.

Baca Lebih Lanjut
Donasi Pasien
Ruang Pasien

Mata Kiri Dilahap Kanker, Mulyadi Kini Berjuang Sendiri

Tolong! Kanker itu sudah memakan setengah wajah pak Mulyadi (46 thn). Inilah kisah hidup Ahmad Mulyadi atau kerap disapa Mulyadi. Sebagai anak sulung, sejak usia remaja pak Mulyadi sudah menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi kedua orang tuanya dan keempat adik. Dari pagi bertemu malam, waktunya dihabiskan sebagai kuli bangunan. Tahun demi tahun berganti, tepatnya di tahun 2018 pak Mulyadi mulai merasakan nyeri pada bagian mata. Ketika dirinya berkaca, pak Mulyadi melihat adanya benjolan kecil pada matanya.
“Saya kira cuman sakit mata biasa, tapi kok benjolannya semakin besar. Benjolannya sampai nutupin mata kiri saya.” ungkap pak Mulyadi. Bahkan dari benjolan tersebut timbul luka dan nanah yang membuat dia meringis kesakitan. Setelah memberanikan diri untuk berobat ke rumah sakit, pak Mulyadi divonis mengidap penyakit kanker. Tubuh kurus itu bergetar, hatinya begitu hancur saat mendengar kabar tersebut. Saat ini, pak Mulyadi tidak dapat melanjutkan pekerjaannya sebagai kuli bangunan. Terlalu beresiko mengingat kondisinya sekarang. Tidak jarang dia mendapatkan tatapan-tatapan sinis, mereka yang melihat seolah berkata, “Jangan dekat-dekat”. Pak Mulyadi berjuang seorang diri untuk melawan kanker. Mulai dari memasak, pergi berobat, hingga membersihkan luka di matanya dilakukan sendirian. Sehari-hari, pak Mulyadi bergantung pemberian orang lain atau adiknya, itupun hanya untuk makan saja.

Baca Lebih Lanjut